Ini 3 Fenomena Alam yang Muncul Setelah Siklon Tropis Seroja

 Ini 3 Fenomena Alam yang Muncul Setelah Siklon Tropis Seroja – Beberapa waktu yang lalu, sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat mengalami dampak cuaca ekstrem akibat adanya siklon tropis Seroja. Menurut BMKG, siklon tropis Seroja merupakan perkembangan dari bibit siklon 99S yang dideteksi muncul pada 2 April 2021. Bibit siklon tersebut tumbuh dan menjadi siklon tropis seroja pada 5 April 2021 pukul 01.00 WIB.

Setelah terjadinya badai seroja, sejumlah fenomena alam muncul yaitu munculnya pulau hingga danau. Berikut ini fenomena yang muncul setelah badai seroja:

1. Pulau Paskah Sebuah pulau baru muncul di Dusun Sai, Desa Tolama, Kecamatan Loaholu, Kabupaten Rote Ndao NTT, setelah badai seroja. Pulau tersebut diketahui pada Minggu, 5 April 2021.

“Pulau itu muncul, sebagai dampak dari badai seroja yang melanda Kabupaten Rote Ndao sejak 4 sampai 6 April 2021 lalu,” kata Camat Loaholu Jemi Oktovianus.

Saat diukur, pulau tersebut memiliki panjang sejauh 152 langkah kaki. Kemunculan pulau pada Hari Paskah membuat pulau tersebut akan dinamakan Pulau Paskah.

“Nanti kami bersama tokoh adat dan masyarakat akan bertemu dengan Bupati dan Wakil Bupati untuk melaporkan sekaligus menamakan pulau itu,” kata Jemi.

Meski demikian, Pihak Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Imam Fauzi menjelaskan, yang muncul tersebut bukan pulau. Akan tetapi, merupakan gundukan pasir dan batu karang. Imam mengatakan, dari pemantauan drone, terdapat enam gundukan. Lima gundukan di antaranya tidak menonjol atau cenderung rata dengan rataan terumbu.

Adapun gundukan paling tinggi sekitar 2,5 meter melandai ke arah laut. Menurut dia, saat air surut gundukan itu terlihat jelas namun saat pasang tidak terlihat. Gundukan pasir dan batu karang terdiri dari pasir, pecahan karang, dan bongkahan karang-karang masive yang sudah mati seperti karang porities, simphyllia, dan sebagainya. Bongkahan karang diduga berasal dari karang yang sebelumnya masih hidup dan mati. Bongkahan karang ini tereksposur sepanjang rataan terumbu yang terhempas dengan pasir dan patahan karang lain membentuk gundukan.

“Intinya belum bisa masuk kategori pulau, karena gundukan itu tenggelam saat pasang tertinggi. Ada kemungkinan semakin berkurang luasannya karena material penyusunnya pasir, kerikil, dan bongkahan karang yang tidak padat. Pasir dan kerikil akan tererosi oleh gelombang,” kata dia.

2. Pulau di Sabu Raijua dan Kota Kupang Penemuan gundukan yang seperti pulau juga ditemukan di Sabu Raijua dan Kota Kupang. Hal tersebut disampaikan oleh Imam.

“Di tiga lokasi ini bukan pulau tapi itu gundukan pasir atau batu karang,” kata Imam.

Imam menyebutkan, di Kabupaten Sabu Raijua, lokasi gundukan berada di Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat. Adapun di Kota Kupang terdapat di Kelurahan Namosain, Kecamatan Alak. Di Sabu Raijua, gundukan memiliki panjang mencapai 60 meter, sementara di Kupang panjang lebih dari 100 meter.

3. Danau baru di Kelurahan Sikumana Fenomena lainnya yang terjadi usai siklon Seroja adalah munculnya danau baru di Kelurahan Sikumana, Kota Kupang. Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Provinsi NTT, Dr Herry Kota mengatakan, jenis danau yang terbentuk tersebut adalah jenis danau dolina.

“Danau yang baru terbentuk di Sikumana ini masuk dalam kategori danau dolina atau danau karst,” kata Herry.

Dia menyebutkan, pembentukan danau seperti itu sering terjadi di daerah yang masuk dalam daerah bertopografi karst atau bentangan alam yang memiliki siklus hidrologi yang khas sebagai akibat dari perkembangan batu karbonat. Kota Kupang merupakan daerah bertopografi karst dengan tingkat keterjalan yang tinggi serta cekungan dan tonjolan dan bukit berbatu yang tidak beraturan.

Selain itu, memiliki aliran bawah tanah dan adanya gua memiliki potensi adanya pembentukan danau dolina. Menurut dia, danau dolina seperti terjadi di Kelurahan Sikumana memungkinkan terbentuk karena intensitas hujan yang sangat tinggi ketika terjadi badai siklon tropis seroja. Danau dolina, lanjut dia, merupakan danau musiman sehingga ketika musim kemarau dengan penguapan yang tinggi maka air yang ada kembali menjadi kering.

 

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *